

Photo: Muchtamir
Pelestarian ekosistem merupakan bagian inti dari model pengelolaan lingkungan PT Vale. Melalui penerapan hierarki mitigasi yang ketat, perusahaan berupaya menghindari, meminimalkan, memulihkan, dan mengompensasi dampak ekologis yang timbul akibat kegiatan operasional, termasuk pembukaan lahan, sehingga gangguan terhadap habitat dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah konsesi dapat diminimalkan.
Pendekatan
PTVI menerapkan hierarki mitigasi yang mencakup menghindari (avoid), meminimalkan (minimize), memulihkan (restore), dan mengompensasi (offset) dampak terhadap keanekaragaman hayati. Pada tahun 2025, perusahaan menyelesaikan Critical Habitat Assessment (CHA) dan Ecosystem Services Assessment (ESA) di seluruh area operasional untuk memperkuat pemahaman terhadap risiko keanekaragaman hayati, ketergantungan ekosistem, dan prioritas konservasi. Hasil kajian tersebut menjadi dasar penyusunan Biodiversity Management Plan, serta pengembangan Biodiversity Action Plan dan rencana offset keanekaragaman hayati di tingkat lokasi.
PTVI menetapkan target No Net Loss pada seluruh area operasional, serta berupaya mencapai Net Gain jika memungkinkan. Proses kajian dan pemantauan melibatkan masyarakat setempat, pakar keanekaragaman hayati, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian lingkungan guna memastikan pengelolaan yang berbasis sains dan partisipatif.
Upaya yang dilakukan antara lain:
- Mengintegrasikan pertimbangan keanekaragaman hayati dalam pemilihan lokasi, desain, dan perencanaan tambang.
- Melindungi ekosistem sensitif daratan, perairan tawar, pesisir dan laut, kawasan karst, serta sistem Danau Malili.
- Memantau spesies endemik dan dilindungi secara berkala serta menyesuaikan langkah pengelolaan berdasarkan hasil pemantauan.
- Memulihkan habitat yang terganggu melalui reklamasi progresif, rehabilitasi ekosistem, dan berbagai program konservasi.

Photo: PT Vale Indonesia / Hariandi Hafid
Kinerja
- Pada tahun 2025, PTVI berhasil melestarikan dan membudidayakan 72.296 pohon lokal, endemik, dan dilindungi di Sorowako, meningkat sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Program konservasi ex-situ juga berhasil mempertahankan 18 ekor rusa Timor (Rusa timorensis) dan 1 ekor anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) sebagai bagian dari upaya perlindungan spesies prioritas.
- Selain itu, PT Vale melaksanakan program restorasi ekosistem laut di Pulau Bulupoloe dengan memasang 25 unit terumbu karang buatan (artificial reef/spider reef) dan mengangkat lebih dari 200 kilogram sampah pesisir. Dengan tambahan tersebut, jumlah total terumbu karang buatan yang telah dipasang di perairan sekitar mencapai 150 unit, guna mendukung pemulihan habitat laut dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Photo: PT Vale Indonesia / Hariandi Hafidz
Kebijakan dan Dokumen Keanekaragaman Hayati PT Vale
Pengelolaan keanekaragaman hayati di PT Vale dilaksanakan melalui penerapan praktik dan proses pengelolaan yang mencakup seluruh rantai nilai perusahaan untuk mengurangi dampak terhadap keanekaragaman hayati dan kawasan yang dilindungi yang berpotensi terdampak oleh kegiatan operasional. Pendekatan ini mengedepankan penerapan prinsip“No Net Loss” dan, jika memungkinkan,“Net Positive Impact” terhadap keanekaragaman hayati. Selain itu, perusahaan berkomitmen untuk tidak mengembangkan tambang baru di kawasan lindung tanpa persetujuan dari Pemerintah yang berwenang. Inisiatif dan komitmen kami terkait keanekaragaman hayati (kehati) kami tuangkan dalam dokumen Kebijakan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk.
Taman Keanekaragaman Hayati Sawerigading Wallacea
Salah satu bentuk kesungguhan PT Vale mengelola keanekaragaman hayati adalah pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea yang merupakan sarana konservasi flora dan fauna, sarana edukasi keanekaragaman hayati, tempat rekreasi dan sarana olahraga jogging. Taman ini diresmikan pada 30 Maret 2023 lalu oleh Presiden Joko Widodo.
Photo: PT Vale Indonesia / Hariandi Hafidz